Jumat, 01 Mei 2009

Pelajaran Management Skills dari Alexander the Great

Selain membaca buku-buku manajemen dan bisnis, saya memiliki minat yang cukup mendalam dengan buku-buku sejarah klasik : sebuah arena dimana kisah-kisah perjuangan yang sarat pesona magis dibentangkan dalam narasi sejarah yang mencekam. Itulah sederet narasi menggetarkan tentang peradaban Mesopotamia Kuno, kebesaran dinasti Ming di China, hingga kisah petualangan seorang anak muda brilian bernama Gajah Mada di bumi Nusantara.

Dan dari rangkaian sejarah yang terbentang hingga 5000 tahun silam itu, menyeruak seorang figur legendaris bernama Alexander the Great. Tak pelak, sosok yang pernah difilmkan dengan bagus oleh sutradara Oliver Stone ini merupakan salah satu figur mencolok dalam panggung sejarah peradaban manusia. Melalui kepemimpinannya yang gemilang, ia memimpin barisan prajuritnya dalam sebuah penaklukan terbesar sepanjang masa. Ada banyak pelajaran manajerial dan kepemimpinan yang bisa kita catat dari murid kesayangan filsof besar Aristoteles ini. Disini, kita hanya hendak mendiskusikan dua catatan penting diantaranya.

Catatan yang pertama adalah ini : dalam praktek leadership dan manajemen, senioritas adalah sebuah mitos. Dan tak ada yang lebih gamblang membuktikan hal ini dibanding kisah heroik kepemimpinan Alexander the Great. Ia pertama kali memimpin puluhan ribu prajuritnya dalam usia 22 tahun ! Sungguh saya selalu tertegun-tegun dengan fakta sejarah ini : seorang anak muda berusia 22 tahun memimpin 50,000 prajurit melakukan perjalanan penaklukan dalam wilayah yang membentang sepanjang 20,000 km. Hingga hari ini, 2300 tahun setelah sejarah itu ditorehkan, saya tak pernah bisa menemukan sosok panglima semuda itu, dengan prestasi yang sedemikian mencengangkan.

Usia muda ternyata memang tak semestinya menghalangi kita untuk menggapai puncak prestasi; sepanjang kita memiliki bekal kompetensi yang kokoh. Alexander dalam usianya yang masih belia, dan dipadu dengan tekad yang meruap-ruap, telah memberikan pelajaran yang amat berharga tentang bagaimana menjalani sebuah petualangan hidup yang berkibar-kibar. Atau mungkin justru karena ia masih amat muda, ia seperti tak pernah kehabisan energi untuk menjejakkan kaki hingga ribuan kilometer panjangnya. Bagi Anda semua yang masih muda, yang mungkin masih berusia 20-an tahun, Sang Alexander memberikan contoh yang amat berharga : jangan pernah takut mengambil jalan terjal nan berliku; dan jangan pernah memilih jalur hidup yang linear nan membosankan.

Catatan yang kedua adalah ini : tanpa sense of purpose yang kuat, perjalanan hidup yang penuh ambisi pada akhirnya hanya akan terpelanting dalam sebuah ruang kehampaan. Dan akhir sejarah kisah Alexander the Great menyeruakkan pelajaran itu dengan dramatis. Setelah bertahun-tahun melakukan parade penaklukan tiada henti hingga wilayah kekuasaannya membentang separo jagat, ribuan pasukan itu terhenti di wilayah India. Pada titik ini, para prajuritnya mulai tergelincir dalam keletihan fisik yang memuncak, kerinduan yang mendalam akan kampung halaman, dan oleh rasa kejenuhan yang menghujam.

Mereka disergap oleh melenyapnya gairah untuk bertarung, dan pelan-pelan mulai kehilangan sense of purpose. “Untuk apa kita terus melakukan penaklukan demi penaklukan? Apa lagi yang harus kita tuju setelah kita merengkuh separoh jagat raya?” demikian raungan salah satu prajuritnya seperti yang tercatat dalam buku sejarah. Alexander the Great tak kunjung mampu memberikan jawaban yang visioner, dan menjelujurkan sense of purpose yang meneguhkan hati. Alexander gagal menambal moralitas dan spirit dari ribuan prajuritnya yang mulai retak berkeping-keping. Demikianlah, sejarah panjang dan kisah kebesaran Alexander bersama ribuan prajuritnya harus terhenti, bukan karena oleh kekuatan musuh yang mengharu biru. Namun justru oleh lenyapnya sense of purpose : tanpa arah tujuan yang jelas, para prajurit yang gagah berani itu seperti terkapar dalam kerapuhan yang memilukan.

Kita juga sama. Tanpa sense of purpose yang jelas, kita mungkin akan mudah terkapar dan terpelanting dalam pusaran hidup tanpa arah. Tanpa sense of purpose yang kokoh, kita barangkali akan mudah terperangkap dalam kejenuhan dan disergap oleh rasa gairah yang memudar. Kita barangkali tidak mesti harus mendedahkan tujuan hidup kita dengan rinci, namun setidaknya kita mesti memiliki arah yang tematis dalam rangkaian perjalanan hidup yang panjang ini. Atau setidaknya, kita mesti memiliki “tema yang cukup jelas” tentang apa-apa yang hendak kita lakoni dalam drama masa depan kita.

Jadi pertanyaan besar di awal tahun 2009 ini adalah : apakah kira-kira Anda sudah memiliki sense of purpose yang cukup jelas? Dan “tema hidup” apakah yang Anda pilih untuk menapaki tahun 2009 ini?

Reactions:

0 comments: